alexametrics

Tangkal Depresi, Kesehatan Mental Kian Relevan Seiring Pandemi Corona

Sonny Unggara
Sabtu, 01 Agustus 2020 - 14:00 WIB
"Saya sebagai orang tua kecewa dengan kesimpulan itu (depresi) karena enggak mungkin anak saya bunuh diri. Kalau orang depresi menurut saya ya, awam, paling enggak dia tidak bisa kerja, tidak punya harapan.” Dua penggal kalimat itu telontar dari bibir Suwandi, ayah Yodi Prabowo, editor salah satu stasiun TV yang meninggal karena bunuh diri. Raut duka masih terpancar dari wajah Suwandi saat melayani wawancara sebuah stasiun TV pada Sabtu (25/7) itu. Suwandi tidak percaya anaknya bunuh diri akibat depresi karena tidak menunjukkan tanda-tanda ada tekanan mental.

-----------------------------------------------------------
BACA JUGA :
VAKSIN COVID-19, JANGAN MENJADIKANNYA LADANG BISNIS

PP SUDAH DITEKEN PRESIDEN, LPSK HITUNG KOMPENSASI KORBAN TERORISME
-----------------------------------------------------------

Penyebab kematian Yodi memang sempat menjadi teka-teki selama dua pekan. Namun semua itu terjawab setelah polisi mengungkap bahwa pemuda tersebut tidak dibunuh, melainkan bunuh diri dengan menusuk dirinya dengan pisau yang ia beli sendiri. Motivasi bunuh diri diduga karena depresi.

Kasus Yodi Prabowo mengonfirmasi bahaya depresi yang bisa berujung kematian dengan cara bunuh diri. Kasus depresi dan kesehatan mental lain perlu diberi perhatian lebih demi mencegah jatuhnya korban bunuh diri berikutnya. Pentingnya kampanye kesehatan mental kian relevan seiring pandemi corona (Covid-19) yang membuat tekanan yang dipikul seseorang bisa menjadi lebih berat.

(son)
Arsip Info Grafis (Static)