PEMPROV DKI Jakarta dituntut bekerja keras untuk meningkatkan keamanan warganya. Keseriusan dibutuhkan karena tingkat keamanan di ibu kota negara ini yang meliputi keamanan digital, kesehatan, infrastruktur, dan pribadi terbilang rendah. Berdasar survei The Economist Intelligence Unit (EIU), pada 2019 ini Jakarta masuk ke dalam daftar kota dengan keamanan terburuk di dunia. Jakarta berada di peringkat kedelapan di belakang Casablanca dan di depan New Delhi dengan nilai 54,5 dari 100. Menurut EIU, keamanan kota menjadi prasyarat penting kualitas hidup. Kota yang berhasil melakukannya mengalami kemajuan dan membawa kesejahteraan, keamanan, dan kebahagiaan. Namun jika sebaliknya, kota akan menyebabkan risiko ekonomi dan kemanusiaan yang signifikan.
Tokyo kembali menjadi kota teraman di dunia pada 2019 dengan nilai 92. Sebelumnya, Tokyo pernah meraih predikat itu pada 2017 dan 2015. Menurut EIU, angka kejahatan di Tokyo sangat rendah, mitigasi bencananya sangat baik, dan seluruh komputernya sangat kecil kemungkinan terserang malware. “Gempa bumi merupakan momok bagi Jepang. Penting bagi kami untuk melindungi warga dan kota dari bencana alam,” ujar Gubernur Tokyo, Yuriko Koike. “Kami melakukan bermacam reformasi, baik konkret ataupun abstrak dan terus mengalokasikan dana yang amat besar agar dapat melaksanakannya secara konsisten.” Pada tahun lalu Tokyo diguyur hujan lebat hingga menimbulkan banjir dan menewaskan banyak orang. Sebagai wilayah yang dikelilingi beberapa aliran sungai, Pemerintah Tokyo membangun waduk bawah ta nah yang sangat besar untuk mengantisipasi banjir. Pemerintah Tokyo juga mulai mengurangi jumlah tiang listrik.
Bersama Tokyo, kota Asia Pasifik lainnya juga selalu mendominasi daftar kota teraman EIU. Faktanya, Singapura dan Osaka berada di posisi kedua dan ketiga. Sydney dan Melborune juga masuk jajaran 10 besar. Meski Hong Kong terus turun sejak 2017 dan jatuh ke posisi ke-20, Seoul telah naik dan kini berada di posisi 8. Sisanya berasal dari Eropa; Amsterdam dan Kopenhagen, lalu dari Amerika Utara; Toronto dan Washington. Menurut EIU, geografi dan kebudayaan tidak memengaruhi tingkat keamanan perkotaan. Tokyo, Singapura, dan Osaka berhasil melakukan tata kelola lebih baik karena memandang isu ini secara lebih serius. Menghadirkan keamanan menjadi tantangan serius kota-kota di dunia. Betapa tidak, saat ini manusia lebih banyak terkonsentrasi di pusat perkotaan, yakni mencapai 56% dari total penduduk bumi sekitar 7,7 miliar. Fenomena ini lebih banyak terjadi di negara berkembang. Menilik arus urbanisasi, jumlah manusia yang menetap di perkotaan akan naik menjadi sebanyak 68% pada 2050.
Copyright © 2025 SINDOnews.com, All Rights Reserved
viewphoto/ rendering in 0.4705 seconds (1#24)